Keracunan Pestisida

Paper Toksikologi Veteriner
Keracunan Pestisida

Pengertian
Pestisida adalah zat untuk membunuh atau mengendalikan hama. Beberapa jenis hama yang paling sering ditemukan adalah serangga dan beberapa di antaranya sebagai vektor penyakit. Penyakit-penyakit yang penularannya melalui vektor antara lain malaria, onkosersiasis. filariasis, demam kuning, riketsia, meningitis, tifus. dan pes. Insektisida membantu mengendalikan penularan penyakit-penyakit ini.
Penggunaan pestisida yang tidak tepat dapat memberikan akibat samping keracunan. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi ketidaktepatan penggunaan pestisida antara lain tingkat pengetahuan. sikap/perilaku pengguna pestisida, penggunaan alat pelindung, serta kurangnya informasi yang berkaitan dengan resiko penggunaan pestisida.

Penggolongan Pestisida
A.    Insektisida
Pestisida khususnya insektisida merupakan kelompok pestisida yang terbesar dan terdiri atas beberapa sub kelompok kimia yang berbeda. yaitu:
1.      Organoklorin merupakan insektisida chlorinated hydrocarbon secara kimiawi tergolong insektisida yang relatif stabil dan kurang reaktif, ditandai dengan dampak residunya yang lama terurai di lingkungan. Salah satu insektisida organoklorin yang terkenal adalah DDT. Pestisida ini telah menimbulkan banyak perdebatan. Kelompok organoklorin merupakan racun terhadap susunan syaraf baik pada serangga maupun mamalia. Keracunan dapat bersifat akut atau kronis. Keracunan kronis bersifat karsinogenik (kanker).
2.      Organofosfat. Insektisida ini merupakan ester asam fosfat atau asam tiofosfat. Pestisida ini umumnya merupakan racun pembasmi serangga yang paling toksik secara akut terhadap binatang bertulang belakang seperti ikan, burung, cicak dan mamalia. Pestisida ini mempunyai efek, memblokade penyaluran impuls syaraf dengan cara mengikat enzim asetilkolinesterase. Keracunan kronis pestisida golongan organofosfat berpotensi karsinogenik
3.      Karbamat, kelompok ini merupakan ester asam N-metilkarbamat. Bekerja menghambat asetilkolinesterase. Tetapi pengaruhnya terhadap enzim tersebut tidak berlangsung lama, karena prosesnya cepat reversibel. Kalau timbul gejala, gejala itu tidak bertahan lama dan cepat kembali normal. Pada umumnya, pestisida kelompok ini dapat bertahan dalam tubuh antara 1 sampai 24 jam sehingga cepat diekskresikan.
4.      Piretroid dan yang berasal dari tanaman lainnya Piretroid berasal dari piretrum diperoleh dari bunga Chrysanthemum cinerariaefolium. Insektisida tanaman lain adalah nikotin yang sangat toksik secara akut dan bekerja pada susunan saraf. Piretrum mempunyai toksisitas rendah pada manusia tetapi dapat menimbulkan alergi pada orang yang peka.

B.     Herbisida
Ada beberapa jenis herbisida yang toksisitasnya pada hewan belum diketahui dengan pasti.
1.      Senyawa klorofenoksi, misalnya 2,4-D (2,4 asam diklorofenoksiasetat) dan 2,4,5-T (2,4,5-asam triklorofenoksi asetat). Senyawa-senyawa ini bekerja pada tumbuhan sebagai hormon pertumbuhan. Toksisitasnya pada hewan relatif rendah. Tetapi klorakne, mempunyai efek toksik pada manusia disebabkan oleh pencemar 2,3,7,8- tetraklorobenzo-p-dioksin.
2.      Herbisida biperidil, misalnya parakuat dan dikuat, telah dipergunakan secara luas. Toksisitas zat ini dilakukan lewat pembentukan radikal bebas. Toksisitas parakuat ditandai oleh efek paru-paru melalui paparan inhalasi dan oral. Keracunan kronis pestisida paraquat dan dikuat bersifat karsinogenik
3.      Herbisida lainnya seperti dinitro-o-kresol (DNOC), amitrol (aminotriazol), karbamat profam dan kloroprofam dan lain-lain.
C. Fungisida
1.      Senyawa merkuri, misalnya metil dan etil merkuri merupakan fungisida yang sangat efektif dan telah dipergunakan secara luas untuk mengawetkan butir padi-padian. Beberapa kecelakaan tragis akibat penggunaan pestisida ini, menyebabkan banyak kematian dan kerusakan neurologi menetap, sehingga kini tidak digunakan lagi.
2.      Senyawa dikarboksimida antara lain dimetil-tiokarbamat (ferbam, tiram dan ziram) dan etilenbisditiokar (maneb, nabam dan zineb). Toksisitas akut senyawa ini relatif rendah. karena itu zat ini dipergunakan secara luas dalam pertanian tapi ada kemungkinan berpotensi karsinogenik.
3.      Derivat ftalimida misalnya kaptan dan folpet, mempunyai toksisitas akut dan kronis yang sangat rendah namun berpotensi karsinogenik dan teratogenik.
4.      Senyawa aromatik misalnya pentaklorofenol (PCP), sebagai bahan pengawet kayu. Pentakloronitrobenzen (PCNB) dipergunakan sebagai fungisida dalam mengolah tanah. Secara akut zat ini tidak begitu tosik dibandingkan PCP, tetapi dapat bersifat karsinogenik.
5.      Fungisida lain adalah senyawa Nheterosiklik tertentu misalnya benomil dan tiabendazol. Toksisitas bahan kimia ini sangat rendah sehingga dipergunakan secara luas dalam pertanian. Heksaklorobenzen dipergunakan sebagai zat pengolah benih.
D. Rodentisida
1.      Warfarin adalah suatu antikoagulan yang bekerja sebagai anti metabolit vitamin K, dengan demikian menghambat pembentukan protrombin. Bahan kimia ini telah dipergunakan secara luas karena toksisitasnya rendah.
2.      Tiourea misalnya ANTU (a-naftiltiourea) sangat toksik pada tikus tetapi tidak begitu toksik bagi manusia.
3.      Natrium fluoroasetat dan fluoroasetamida, bersifat sangat toksik karena itu kedua zat ini hanya boleh digunakan oleh orang-orang tertentu yang mendapat izin. Kedua toksikan ini bekerja menghambat siklus asam sitrat.
4.      Rodentisida lainnya mencakup produk tumbuhan misalnya alkaloid striknin, perangsang susunan syaraf pusat kuat, squill merah, yang mengandung glikosida skilaren A dan B. Glikosida ini mempunyai efek kardiotonik dan emesis sentral karena itu zat ini secara relatif tidak beracun bagi sebagian besar mamalia tetapi sangat beracun bagi tikus. Rodentisida anorganik antara lain seng fosfid, talium sulfat, arsen trioksida dan unsur fosfor.
E. Fumigan
Sesuai namanya, kelompok pestisida ini mencakup beberapa gas, cairan yang mudah menguap dan zat padat yang melepaskan berbagai gas lewat reaksi kimia. Dalam bentuk gas, zat-zat ini dapat menembus tanah untuk mengendalikan serangga-serangga, hewan pengerat dan nematoda tanah. Banyak fumigan misalnya akrilomtril, kloropikrm dan etilen bromida adalah zat kimia reaktif dan dipergunakan secara luas dalam industri kimia. Beberapa fumigan bersifat karsinogenik seperti etilen bromida, 1,3-dikloropropen.

Jalan Masuk Pestisida
Pestisida dapat masuk ke dalam tubuh melalui kulit (dermal), pernafasan (inhalasi) atau mulut (oral). Pestisida akan segera diabsorpsi jika kontak melalui kulit atau mata. Absorpsi ini akan terus berlangsung selama pestisida masih ada pada kulit. Kecepatan absorpsi berbeda pada tiap bagian tubuh. Perpindahan residu pestisida dan suatu bagian tubuh ke bagian lain sangat mudah. Jika hal ini terjadi maka akan menambah potensi keracunan. Residu dapat pindah dari tangan ke dahi yang berkeringat atau daerah genital. Pada daerah ini kecepatan absorpsi sangat tinggi sehingga dapat lebih berbahaya dari pada tertelan. Paparan melalui oral dapat berakibat serius, luka berat atau bahkan kematian jika tertelan. Pestisida dapat tertelan karena kecelakaan, kelalaian atau dengan sengaja.

Keracunan dan Toksisitas Pestisida
Keracunan pestisida terjadi bila ada bahan pestisida yang mengenai dan/atau masuk ke dalam tubuh dalam jumlah tertentu. Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi keracunan pestisida antara lain:
a.       Dosis. Dosis pestisida berpengaruh langsung terhadap bahaya keracunan pestisida, karena itu dalam melakukan pencampuran pestisida untuk penyemprotan petani hendaknya memperhatikan takaran atau dosis yang tertera pada label. Dosis atau takaran yang melebihi aturan akan membahayakan penyemprot itu sendiri.
b.      Toksisitas senyawa pestisida. Kesanggupan pestisida untuk membunuh sasarannya.
Pestisida yang mempunyai daya bunuh tinggi dalam penggunaan dengan kadar yang rendah menimbulkan gangguan lebih sedikit bila dibandingkan dengan pestisida dengan daya bunuh rendah tetapi dengan kadar tinggi. Toksisitas pestisida dapat diketahui dari LD 50 oral yaitu dosis yang diberikan dalam makanan hewan-hewan percobaan yang menyebabkan 50% dari hewan-hewan tersebut mati. Toksisitas pestisida secara inhalasi juga dapat diketahui dari LC 50 yaitu konsentrasi pestisida di udara yang mengakibatkan 50% hewan percobaan mati.
Makin rendah nilai LD 50/LC 50 maka makin toksis pestisida tersebut.
a.       Jangka waktu atau lamanya terpapar pestisida. Paparan yang berlangsung terus-menerus lebih berbahaya daripada paparan yang terputus-purus pada waktu yang sama. Jadi pemaparan yang telah lewat perlu diperhatikan bila terjadi risiko pemaparan baru. Karena itu penyemprot yang terpapar berulang kali dan berlangsung lama dapat menimbulkan keracunan kronik.
b.      Jalan masuk pestisida dalam tubuh. Keracunan akut atau kronik akibat kontak dengan pestisida dapat melalui mulut, penyerapan melalui kulit dan saluran pernafasan. Pada petani pengguna pestisida keracunan yang terjadi lebih banyak terpapar melalui kulit dibandingkan dengan paparan melalui saluran pencernaan dan pernafasan.

Cara Kerja Pestisida
a.       Pestisida Golongan Organoklorin Insektisida organoklorin bekerja dengan merangsang sistem syaraf dan menyebabkan paratesia, peka terhadap rangsangan, iritabilitas, terganggunya keseimbangan, tremor dan kejangkejang. Cara kerja zat ini tidak diketahui secara tepat. Beberapa zat kimia ini bekerja pada sistem syaraf.
b.      Pestisida Golongan Organofosfat dan Karbamat Pestisida golongan organofosfat dan karbamat memiliki aktivitas antikolinesterase seperti halnya fisostigmin, neostigmin, piridostigmin, distigmin, ester asam fosfat, ester tiofosfat dan karbamat.
Cara kerja semua jenis pestisida organofosfat dan karbamat sama yaitu menghambat penyaluran impuls saraf dengan cara mengikat kolinesterase, sehingga tidak terjadi hidrolisis asetilkolin.



Klasifikasi Pestisida Berdasarkan Toksisitasnya
Klasifikasi
LD50 untuk tikus (mg/kg)
Oral
Dermal
Padat
Cair
Padat
Cair
Sangat berbahaya sekali
< 5
<20
<10
<40
Sangat berbahaya
5-50
20-200
10-100
40-400
Berbahaya
50-500
200-2000
100-1000
400-4000
Cukup berbahaya
>500
>2000
>1000
>4000


Gejala dan Tanda Keracunan
No.
Jenis Pestisida
Gejala & Tanda
Keterangan
1.


















2.














3.



















4.














5.




Insektisida: Organoklorin


Oraganofosfat dan karbamat




Piretroid sintetik

Insektisida mikroba: Bacillus thuringiensis
Herbisida
Herbisida biperidil
Parakuat
Dikuat

Klorfenoksi herbisida


Dikuat atau parakuat



Fungisida
Pengawet kayu Kreosot (coal tar)
Pentaklorofenol






Arsenic






Rodentisida: Kumarin



Indadion


Seng sulfat



Strikhnin


Fumigan
Sulfur florida

Fosfin





Halokarbon



Mual, muntah, gelisah, pusing, lemah, rasa geli atau menusuk pada kulit, kejang otot, hilang koordinasi, tidak sadar


Lelah, sakit kepala, pusing, hilang selera makan, mual, kejang perut, diare, penglihatan kabur, keluar: air mata, keringat, air liur berlebih, tremor, pupil mengecil, denyut jantung lambat, kejang otot (kedutan), tidak sanggup berjalan, rasa tidak nyaman dan sesak, buang air besar dan kecil tidak terkontrol, inkontinensi, tidak sadar dan kejang-kejang
Iritasi kulit: pedih, rasa terbakar, gata-gatal, rasa geli, mati rasa, inkoordinasi, tremor, salivasi, muntah, diare, iritasi pada pendengaran dan perasa.
Radang saluran pencemaan



Iritasi pada kulit, mata, saluran pencemaan
Pertumbuhan abnormal pada : paru, lensa dan kornea rnata, mukosa hidung, kerusakan paru-paru, ginjal, hati dan otak.
Gangguan lensa mata dan dinding saluran usus, gelisah, mengurangi sensiti vitas terhadap rangsangan
Iritasi tingkat sedang pada kulit dan membran mukosa, rasa terbakar pada hidung, sinus dan dada, batuk, pusing. Iritasi perut, muntah, perut dan dada sakit, diare, pusing, bingung, bizar, tidak sadar
Iritasi pada membran mukosa mulut, kerongkongan dan perut, muntah, iritasi kulit dan rasa terbakar, mimisan, radang pada mulut dan saluran pernafasan atas.

Iritasi pada membran mukosa
Iritasi kulit hingga dermatitis, Iritasi mata dan saluran pemafasan, kerusakan hati parah Sakit kepala, pusing, mual, muntah, timbul bercak biru kehitaman-hijau kecoklatan pd kulit.
Iritasi kulit, mata dan saluran pemafasan Dermal menimbulkan rasa kaku pada hidung, tenggorokan gatal, keluar air mata, berjerawat. Demam, sakit kepala, mual, berkeringat banyak, hilangnya koordinasi, kejang-kejang, demam tinggi, kejang otot dan tremor, sulit bernafas, konstriksi dada, nyeri perut dan muntah, gelisah, eksitasi dan bingung, haus hebat, kolaps.
Mual, sakit kepala, diare, nyeri perut, pusing, kejang otot, mengigau, kejang-kejang





Kronis: sakit kepala menetap, sakit perut, salivasi, demam iritasi saluran pemafasan atas. Perdarahan pada hidung, gusi, kencing berdarah, feses berlendir, timbul bercak biru kehitaman-hijau kecoklatan pd kulit.
Kerusakan saraf, jantung dan sistem sirkulasi, hemoragi, kematian pada hewan. Pada manusia belum ada dampak yang dilaporkan
Diare, nyeri perut, mual, muntah, sesak, tereksitasi, rasa dingin, hilang kesadaran, edema paru, iritasi hebat, kerusakan paru-paru, hati, ginjal dan sistem saraf pusat, koma kematian
Kerusakan sistem saraf dalam 20-30 menit: kejangkejang hebat, kesulitan pemafasan, meninggal.

Sakit kepala, pusing. mual, muntah
Depresi, sempoyongan, gagap, mual, muntah, nyeri lambung. gelisah, mati rasa, kedutan, kejang-kejang, nyeri dan rasa dingin di kulit, kelumpuhan pemafasan
Rasa dingin, nyeri dada, diare, muntah, batuk, dada sesak, sukar bernafas. lemas, haus dan gelisah,nyeri lambung, hilangnya koordinasi, kulit kebiruan, nyeri tungkai, perbesaran pupil, timbul cairan pada paruparu, pingsan, kejang-kejang, koma dan kematian
Kulit kemarahan, melepuh dan pecah-pecah menimbulkan kulit kasar dan iuka. Nyeri perut, lemah, gagap, bingung, tremor, kejangkejang seperti epilepsi.
Tidak ada antidot langsung untuk mengatasi keracunan. Obat yang diberikan hanya mengurangi gejala seperti anti konvulsi dan pernafasan buatan.
Gejala keracunan karbamat cepat muncul namun cepat hilang jika dibandingkan dengan organofosfat. Antidot: atropin atau pralidoksim.


Jarang terjadi keracunan, karena kecepatan absorpsi melalui kulit rendah dan piretroid cepat hilang





Akumulasi selama menimbulkan kematian 24-72 jam,

Lebih ringan dari pada parakuat

Kontak dalam jangka lama akan menghilangkan pigmen kulit. Daiam tubuh hanya tinggal dalam waktu singkat
Dosis tinggi




Dermal, inhalasi, oral
Oral

Dermal

Oral







Berdampak pada sistem saraf pusat, paru-paru, jantung dan hati. Gejala muncul 1- beberapa jam setelah paparan. Kematian terjadi setelah 1-3 hari setelah paparan (tergantung dosis)


Sifat Pestisida
A.    Berdasarkan Fungsinya
·         Memberantas atau mencegah hama,penyakit yang merusak tanaman,bagiantanaman atau hasil-hasil pertanian
·         Memberantas gulma
·         Mematikan daun dan mencegah pertumbuhan yang tidak diinginkan
·         Mengatur atau merangsang tanaman atau bagian dari tanaman
·         Memberantas atau mencegah hama luar pada hewan peliharaan
·         Memberantas atau mencegah binatang dan jasad renik dalam rumah tangga

B.     Berdasarkan Struktur kimianya
·         Organophosphat
Organophosphat adalah insektisida yang paling toksik diantara jenis pestisida lainnya dansering menyebabkan keracunan pada orang. Termakan hanya dalam jumlah sedikit saja dapatmenyebabkan kematian, tetapi diperlukan lebih dari beberapa mg untuk dapat menyebabkan kematian pada orang dewasa. 
Organofosfat menghambat aksi pseudokholinesterase dalam plasma dan kholinesterase dalam sel darah merah dan pada sinapsisnya. Enzim tersebut secara normal menghidrolisis asetylcholin menjadi asetat dan kholin. Pada saat enzim dihambat, mengakibatkan jumlah asetylkholin meningkat dan berikatan dengan reseptor muskarinik dan nikotinik pada system saraf pusat dan perifer. Hal tersebut menyebabkan timbulnya gejala keracunan yang berpengaruh pada seluruh bagian tubuh.
·         Carbamate
Insektisida karbamat telah berkembang setelah organofosfat. Insektisida ini biasanya daya toksisitasnya rendah terhadap mamalia dibandingkan dengan organofosfat, tetapi sangat efektif untuk membunuh insekta. Struktur karbamate seperti physostigmin, ditemukan secara alamiah dalam kacang Calabar (calabar bean). Bentuk carbaryl telah secara luas dipakai sebagai insektisida dengan komponen aktifnya adalah Sevine. Mekanisme toksisitas dari karbamate adalah sama dengan organofosfat, dimana enzim achE dihambat dan mengalam karbamilasi.
·         Organochlorin
Organokhlorin atau disebut “Chlorinated hydrocarbon” terdiri dari beberapa kelompok yang diklasifikasi menurut bentuk kimianya. Yang paling populer dan pertama kali disinthesis adalah “Dichloro-diphenyl-trichloroethan” atau disebut DDT.
Mekanisme toksisitas dari DDT masih dalam perdebatan, wlaupun komponen kimia ini sudah disinthesis sejak tahun 1874. Tetapi pada dasarnya pengaruh toksiknya terfokus pada neurotoksin dan pada otak. Saraf sensorik dan serabut saraf motorik serta kortek motorik adalah merupakan target toksisitas tersebut. Dilain pihak bila terjadi efek keracunan perubahan patologiknya tidaklah nyata. Bila seseorang menelan DDT sekitar 10mg/kg akan dapat menyebabkan keracunan, hal tersebut terjadi dalam waktu beberapa jam. Perkiraan LD50 untuk manusia adalah 300-500 mg/kg. DDT dihentikan penggunaannya sejak tahun 1972, tetapi penggunaannya masih berlangsung sampai beberapa tahun kemudian, bahkan sampai sekarang residu DDT masih dapat terdeteksi.

Penanganan
Penanganan keracunan pestisida setiap orang yang pekerjaannya sering berhubungan dengan pestisida seperti petani, buruh penyemprot dan lain-lain harus mengenali gejala dan tanda keracunan pestisida dengan baik. Tindakan pencegahan lebih baik dilakukan untuk menghindari keracunan. Setiap orang yang berhubungan dengan pestisida harus memperhatikan hal-halberikut:
1.      Kenali gejala dan tanda keracunan pestisida dan pestisida yang sering digunakan.
2.      Jika diduga keracunan, korban segera dibawa ke rumah sakit atau dokter terdekat.
3.      Identifikasi pestisida yang memapari korban, berikan informasi ini pada rumah sakit atau dokter yang merawat.
4.      Bawa label kemasan pestisida tersebut. Pada label tertulis informasi pertolongan pertama penanganan korban.
5.      Tindakan darurat dapat dilakukan sampai pertolongan datang atau korban dibawa ke rumah sakit.
Pertolongan pertama yang dilakukan
1)      Hentikan paparan dengan memindahkan korban dan sumber paparan, lepaskan pakaian korban dan cuci/mandikan korban
2)      Jika terjadi kesulitan pernafasan maka korban diberi pernafasan buatan. Korban diinstruksikan agar tetap tenang. Dampak serius tidak terjadi segera, ada waktu untuk menolong korban.
3)      Korban segera dibawa ke rumah sakit atau dokter terdekat. Berikan informasi tentang pestisida yang memapari korban dengan membawa label kemasan pestisida
4)      Keluarga seharusnya diberi pengetahuan/ penyuluhan tentang pestisida sehingga jika terjadi keracunan maka keluarga dapat memberikan pertolongan pertama.

Pencegahan  dan Pengobatan
Cara yang paling baik untuk mencegah pencemaran pestisida adalah dengan tidak menggunakan pestisida sebagai pemberantas hama. Mengingat akibat sampingan yang terlalu berat, atau bahkan menyebabkan kerusakan lingkungan dan merosotnya hasil panen, penggunaan pestisida mulai dikurangi.
Cara-cara yang dapat ditempuh untuk mencegah atau mengurangi serangan hama antara lain :
·         Pengaturan jenis tanaman dan waktu tanam
·         Memilih varietas yang tahan hama
·         Memanfaatkan musuh-musuh alami serangga
·         Penggunaan hormon serangga
·         Sterilisasi
Pengobatan keracunan pestisida ini harus cepat dilakukan terutama untuk toksisitas organophosphat. Bila dilakukan terlambat dalam beberapa menit akan dapat menyebabkan kematian. Diagnosis keracunan dilakukan berdasarkan terjadinya gejala penyakit dan sejarah kejadiannya yang saling berhubungan. Pada keracunan yang berat, pseudokholinesterase dan aktifits eritrosit kholinesterase harus diukur dan bila kandungannya jauh dibawah normal, kercaunan mesti terjadi dan gejala segera timbul. Pengobatan dengan pemberian atrophin sulfat dosis 1-2 mg (IV) dan biasanya diberikan setiap jam dari 25-50 mg. Atropin akan memblok efek muskarinik dan beberapa pusat reseptor muskarinik. Pralidoxim (2-PAM) adalah obat spesifik untuk antidotum keracunan organofosfat. Obat tersebut dijual secara komersiil dan tersedia sebagai garam chlorin.

DAFTAR PUSTAKA

BTKL-PPM. 2009. Analisis Dampak Penggunaan Pestisida Terhadap Petani dan Lingkungan di
            Kecamatan Tanete Riattang Barat Kabupaten Bone Propinsi Sulawesi Selatan.
            Makassar: Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pemberantasan Penyakit Menular.
Pohan, N. 2004. Pestisida dan Pencemarannya. http://repository.usu.ac.id/bitstream/1234
            56789/1/kimia-nurhasmawaty7.pdf. Diakses pada Mei 2015.
Raini, M. 2007. Toksikologi Pestisida dan Penanganan Akibat Keracunan Pestisida. Jurnal
            Media Litbang Kesehatan. 17 (3): 10-18.
Soemirat, J. 2003. Toksikologi Lingkungan. Bandung: Gadjah Mada Uuniversity.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Distokia pada Sapi

Mycoplasma